Tuhan aku cuma mau Mas Adam tahu aku sangat mencintainya.
Kata-kata itu yang masih
tertinggal di benakku, membuatku terbangun dari tidurku. Baru kali ini aku merasa tubuhku begitu lemas, aku nggak punya
semangat hidup. Air mata ini terus menetes.
Ku lirik jam weker di atas meja,
jarumnya menunjuk ke angka 9.00 malam. Kayaknya aku sudah tidur seharian,
kataku dalam hati. Lalu, mataku tertuju pada foto Mas Adam yang ada di atas meja.
“Ya, Tuhan, mengapa Kau ambil
dia begitu cepat” aku kembali menangis sambil memeluk foto itu.
“Siapa yang diambil, yang?” suara dibelakang mengagetkanku.
“Astghfirllah!!!” aku melompat dari kasur saking kagetnya.
“Kamu kenapa sih, kayak lihat
setan”
“A.. Ta.. masa..” aku
benar-benar takut.
“Kamu kenapa sih, ini aku, Adam,
suami kamu”
“Beneran?”
“Lha, bener! Kalau bukan, siapa
yang menikahi kamu tadi siang?”
Ku hampiri dia, ku raba
wajahnya. Kulitnya terasa hangat. Asli.
Tiba-tiba Ponsel Mas Adam berbunyi. Rasa takut mulai menyambangiku. Ini
persis dengan apa yang terjadi di malam itu.
“Hallo, who is speaking?”
“Okay, I’ll be right there”
“Siapa Mas?” tanyaku penasaran
“Dari kantor, aku disuruh
terbang ke Singapore malam ini dan baru kembali minggu depan”
“Bisa dibatalin nggak penerbangan
itu?”
“Kenapa? Apa karena rencana
honeymoon kita? Kita akan tetap pergi, Cuma diundur jadi minggu depan, nggak
apa-apa kan?”
“Bukan itu Mas, tapi aku mau,
kamu temani aku, please” aku sedikit memohon
“Kamu kenapa sih, manjanya lagi
kambuh ya?”
“Bukan, mas, tapi entahlah. Aku
kayak sedang kembali ke masa lalu. Maksudku, aku akan kehilangan kamu
selamanya. Kamu mengalami kecelakaan dan meninggal”
“Kamu mimpi buruk ya, tadi?”
ucap Mas Adam seraya membelai rambutku
“Bukan mimpi! Tapi itu
bener-bener terjadi Mas”
“Mendingan kamu..”
“Susah banget sih, jelasin
ke kamu!” aku marah dan meninggalkan Mas Adam sendiri di kamar.
Aku kesal, gimana cara ngejelasin ini semua ke Mas Adam. Ya, Tuhan, apa maksudnya semua ini.
Kriiing.. kring! Telpon rumahku berdering
membuyarkan lamunanku.
“Halo”
“Sampaikanlah apa yang mau kamu
sampaikan, karena belum tentu ada kesempatan ke 2 kalinya”
“Maaf, siapa ini?”
Klik! Tuut.. Tuut.. Telponnya diputus. Aku
memikirkan sejenak kata pria yang menelponku tadi sebelum aku masuk ke kamar
dan membantu Mas Adam menyiapkan keperluan dinasnya.
“Aku bantu, Mas”
Mas Adam tersenyum melihatku
“Aku antar kamu sampai ke bandara, ya?”
“Enggak usah, aku bisa nyetir
sendiri. Nanti kamu kecapekan”
“Nggak apa-apa, pokoknya aku
antar”
Sekali lagi Mas Adam tersenyum
padaku.
Akhirnya aku mengantarkan Mas
Adam ke bandara. Sepanjang jalan Mas Adam bicara tentang rencana bulan
madu yang tertunda. Mas Adam janji akan membuat bulan madu itu manjadi hal yang tak akan terlupakan untukku nantinya. Namun aku cuma bisa membalas dengan senyuman.
Entahlah, aku sudah nggak semangat lagi membicarakan hal itu. Pikiranku
berantakan. Bingung, takut, semuanya campur aduk.
Sesampainya di bandara,
jantungku berdetak semakin hebat. Aku bingung apa yang harus aku lakukan.
“Kamu nggak mau nganter aku
sampai ke dalam?”
Aku terdiam
“Kamu masih kuatir sama mimpi
kamu itu, ya?” Tanya Mas Adam
“Tapi itu bukan mimpi, Mas” Air
mataku tak tertahan lagi, Mas Adam memelukku erat.
“Nggak akan ada apa-apa sayang,
InsyaAllah. Kamu doain aku ya, sehat, selamat sampai aku pulang”
Mas Adam melepaskan pelukannya
dan keluar dari mobil. Aku memutuskan untuk nggak nganter Mas Adam sampai ke
dalam bandara. Aku berdiri di sisi mobil sambil melihat Mas Adam berjalan
menjauh.
Tiba-tiba Mas Adam berbalik ke
arahku, dan memintaku melihat handphone.
Sayang, betapa bahagianya aku
memilikimu. Aku sangat bersyukur bahwa Allah mengirimkan seorang bidadari
kedalam hidupku.
Begitulah
pesan yang dikirim Mas Adam lewat What’s app. Aku membalasnya dan menjadi pesan
terakhir untuk Mas Adam.
Mas, You are the reason for me
to wake up in the morning everyday. Because You're my end and my beginning. I Love You.
Seiring lambaian tangan Adam dan
terkirimnya message Airin untuk suaminya, dari kejauhan ada sebuah mobil yang
hilang kendali sehingga menabrak Airin yang sedang berdiri di sisi mobil.
Tubuhnya terjepit di antara kedua mobil. Mata
Airin menatap kosong ke arah Adam. Adam kaget dan segera berlari ke
arah sang istri, mendorong mobil, dan berusaha melepaskan tubuh Airin yang terkulai tak bernyawa.
 |
If Only - @cindraprasasti |