Kuna sedang terlelap tidur, tiba-tiba dia
merasa tubuhnya tertindih makhluk besar, berwarna hitam. Kuna meronta, berusaha
melepaskan tubuhnya dari makhluk itu. Namun usahanya sia-sia, makhluk tersebut menyeret
dan melempar Kuna ke ruang gelap. Kuna mulai panik, ia berlari sambil
meraba-raba mencoba mencari jalan keluar. “Ya, Tuhan.. Tolong aku” Ucap Kuna
dengan napas yang terengah-engah. Tiba-tiba Kuna menyentuh sesuatu yang empuk
dan basah. Kuna mencoba menegakan kepalanya, dan.. “Aaaaaaarrrggggghhhh…!” Kuna
pun terbangun dari tidurnya, dan terlepas dari mimpi buruknya. Mukanya
bersimbah keringat. Kemudian dia beranjak dari tempat tidur lalu bergegas ke
kamar Ibunya.
“Bu.. temenin
Kuna tidur, ya” rengek Kuna disamping Ibunya yang sedang tidur pulas
“Bu..” Kuna menggoyangkan badan
Ibunya
“Apa, sih, na.” Ibunya mulai
terganggu
“Temenin Kuna tidur, Bu”
“Kamu itu udah bangkotan! Mentil terus sama Ibu!” Semprot Ibunya.
Kuna anak yang penakut, ia
tidak berani tidur sendiri sejak 15 tahun yang lalu. Diapun sudah mencoba
segala cara untuk menghilangkan sifat penakutnya, dari tidur dengan lampu
menyala, menyumpal telinganya dengan earphone
sambil mendengarkan musik dengan volume yang keras, hingga menyalakan lilin
aromatherapy agar pikirannya tenang, tapi semuanya nihil. Ibunya pun sudah
bosan mengomentari sifat penakutnya Kuna. Sampai suatu hari Ibunya mengenalkan
Kuna dengan dia, yang dapat membuat Kuna berani tidur sendiri hingga malam-malam selanjutnya.
Suatu malam saat jam menunjukan pukul 01.30,
Kuna terjaga. Ia menatap wajah Dika, laki-laki yang ia nikahi 1 bulan lalu sedang
tertidur pulas. Kuna merasa gelisah, ada rasa sesak di dadanya membuat matanya
sulit dipejamkan lagi. Rasa itu adalah rasa rindu, rindu oleh kehangatan dia
yang selalu menemani Kuna tidur sebelum bersama Dika. Kuna perlahan bangkit dari tempat
tidurnya, pelan-pelan agar tidak membangunkan Dika. Lalu Ia berjalan
menuju lemarinya, dan mengambil bantal yang sudah kumal, dipeluk dan
diciumnya bantal itu. Bentuknya tidak sama seperti dulu,
seprainya kini berwarna kecoklatan termakan usia, dengan ujungnya sedikit
sobek. Kuna mengendus aromanya, ini yang tidak pernah berubah, bau yang sama,
bau yang selalu membuat Kuna tenang. Dialah teman sehati Kuna, teman yang mampu
membuat kuna melupakan rasa takutnya. Dialah sesuatu yang berharga dalam hidup
Kuna selain Dika.
![]() |
Sumber foto: meilodimension.blogspot.com |
Wah keren setelah diedit. Sudut pandangnya juga diubah. Hehehe
BalasHapushahaha.. Makasih kak Uda, itu udah 2x ganti.
HapusLagi deg-degan nunggu komen ajen
Makasih kak udah mampir. Alhamdulillah kalo menghibur.
BalasHapusMeluncuuur ke webnya ah
hihihihi bantal busuuk...ceritanya menghibur mak...:)
BalasHapusMakasih mak! Alhamdulillah kalo menghibur
HapusKayak ada jarak dr paragraf terakhir sm paragraf sebelumnya. Klo tokoh dika sedikit diulas kayaknya lebih oke bun
BalasHapusMaksudnya sih supaya ga terlalu lebar, eh, tapi masukannya boleh juga. Ntar unda rubah lagi.
HapusTulisannya bagus menarik sekali, sedangkan aku masih belum bisa huhuh
BalasHapusRajin2 BW kak, baca, dan nyoba pasti bisa..
HapusAq juga masih belajar kok.
Makasih udah mampir..
Blog kakak apa? Nanti aq meluncur ke sana deh
kirain di kasih boneka sama emaknya kuna,ternyata bantal.
BalasHapusaku yakin itu bantal sudah banyak iler -_-
Hahahha... Kakak punya juga ya?
HapusTerimankasih sudah mampir
wah nemu blogger lagi nih dengan gaya tulisan yang beda. good (y)
BalasHapussalam kenal sesama blogger ya :)
oiya blogmu udah aku follow. so, aku tunggu postingan terbarunya ya?
main-main juga ke >> fathur1453.blogspot.com
Hai kak fathur, terima kasih sudah mampir. Alhamdulillah kalau terhibur..
HapusSegera meluncur kak!
Unik jgny karakter kuna
BalasHapusTerima kasih udah mampir kak
Hapusceritanya menarik,,teman sehati itu memang selalu bikin nyaman.
BalasHapusKakak punya ga?
Hapus