![]() |
Sumber gambar: www.pulsk.com |
“Dek, temenin Ayah sebentar. Ayah
nggak bisa tidur, nih”
Suara Ayah mengagetkanku yang
sedang terlelap tidur. Ku lihat handphone,
jamnya menunjuk ke pukul 01.00 dini hari.
Ku sibakan selimutku dan beranjak
malas ke ruang keluarga, dan menemani Ayahku berbincang.
“Ayah nyesek banget, nih, dek.
Udah hari gini masih nggak bisa tidur, Ayahkan jadi bingung”
“Sabar, yah. Emang apa yang Ayah
pikirin?” aku mencoba bertanya
“Ayah nggak mikirin apa-apa. Cuma
nyeseknya ini yang nggak tahan”
“Iya, sabar, kan lagi diobatin.
Semua butuh proses nggak instant, yah” aku mencoba menyemangati ayahku.
Hingga pukul 03.00 kami ngobrol,
aku mendengarkan keluh kesah tentang penyakitnya, sampai akhirnya
Ayahku masuk ke kamar dan mencoba untuk tidur. Aku tetap berada di ruang
keluarga atas permintaannya, sampai ia bener-benar tidur pulas.
Ayahku divonis sakit paru-paru
sejak 3 tahun yang lalu. Beliau memang perokok berat dari saat duduk di Sekolah Menengah
Atas hingga usianya 55 tahun.
Awalnya ayahku hanya mengalami
sesak napas seperti orang asma. Beliau bertanya ke tetangga depan rumah yang
notabene adalah Dokter Spesialis paru. Saat itu Ayahku hanya diberi obat sejenis
symbicort, harganya Rp 600.000/30
pcs. Dengan obat tersebut Ayahku masih dapat beraktifitas dengan baik. Walau
seorang pensiunan di salah satu surat kabar harian di Jakarta, Ayahku mempunyai
kerjaan sampingan bersama rekan sejawatnya yaitu membuat majalah untuk para
manula.
Setahun memakai symbicort,
kelihatannya rasa sesaknya tidak kunjung hilang sehingga dokterpun menganjurkan
memakai obat tersebut sehari 2x.
Suatu saat
symbicort sedang kosong pabrik. Ayahku pun berjuang tanpa obat itu tapi nggak
kuat. Sayangnya saat itu Dokter Spesialis parunya sedang nggak di Jakarta, Ayahku banting setir berobat ke Dokter Umum. Beliau diberikan beberapa
obat, aku lupa obat apa saja. Tapi setiap kali minum obat dari Dokter Umum itu,
Ayahku langsung merasa mual. Ayahku berhenti minum obat itu karena terlalu
keras sehingga mengganggu lambung dan hampir mengalami gangguan fungsi hati.
Di awal tahun 2015, Ayahku
dilarikan ke Rumah Sakit dan dirawat selama 5 hari karena sesak napasnya kian parah sampai nggak mampu bernapas sendiri
tanpa bantuan oksigen.
Hingga kini Ayahku hidup dengan
tabung oksigennya, obat symbicort-nya, obat parunya, dan obat uapnya
(combivent). Sesak nafasnya membuat tidurnya terganggu. Pernah Ayahku 2 hari
berturut-turut nggak tidur, batuk dan mengeluarkan flek darah.
Kemarin, Dokter memintanya untuk
melakukan test laboratotium dahak dan
rongent untuk yang ke 3 kalinya. Pada
dahaknya semua hasil negatif, namun pada rongent
paru-parunya mengalami kemunduran dari hasil rongent yang sebelumnya. Dokter menjelaskan bahwa salah satu
paru-paru Ayahku *aku lupa sebelah mana* mengalami kerusakan dan tidak bisa
bekerja dengan normal lagi, ibarat balon tiup banyak sisi-sisinya yang bolong.
Paru-parunya pun penuh flek hitam akibat nikotin rokok yang menempel dan tidak
dapat dihilangkan.
Kini hidup Ayahku mengandalkan
satu paru lainnya yang masih sehat, bukan hanya Ayahku saja yang berjuang
tetapi seluruh organ tubuhnya pun harus berjuang. Karena organ-organ di tubuh itu mereka seperti saudara, jika 1 sakit, yang lainpun ikutan sakit karena
saling terhubung.
The End
Kisah ini diceritakan bukan untuk memamerkan penyakit Ayahku. Tapi aku hanya berharap
para perokok segera menghentikan hobby-nya itu.
Lihatlah akibat yang akan kalian
alami jika terus menghisapnya. Penyakit yang akan kalian hadapi bukan penyakit
ringan, penyakit itu membutuhkan biaya yang sangat besar, dan membutuhkan kesabaran bagi keluarga
yang menemaninya.
Berilah hak sehat untuk tubuhmu,
sehingga kamu bisa memberikan hak sehat ke orang lain disekitarmu.